Pengalaman ini terjadi saat Trio Karateka IC mengikuti kejuaraan karate perdana. Jujur saja, cukup berat bagiku mengeluarkan izin mengikuti kejuaraan tersebut. Berbagai kekhawatiran menggelayut. Apalagi melibatkan si Mbak yang baru berusia lima. Hanya saja kewarasan dan kesadaran menuntunku untuk melihatnya sebagai sarana bertumbuh. Dalam hal ini, anak-anaklah yang proaktif meminta. Mereka berhasil meyakinkanku bahwa ini sarana akselerasi mereka belajar.
Proses persiapan lomba berjalan sebagaimana normalnya latihan, sebab kelas kejuaraan yang mereka ikuti adalah kelas festival. Kelas ini cukup friendly bagi para atlet pemula. Peserta lomba dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil berisi 4 orang, yang mana tiap kelompok memperebutkan juara 1, juara 2, dan juara 3 bersama. Sederhananya, semua akan dapat gelar juara. Hahaha, gue banget kan? Iya, cocok sekali bagi pribadi ciut nyali untuk urusan kompetisi macam ini.
Hari yang dinanti tiba. Trio TAH maju bergantian di kelompok yang berbeda. Berawal dari Mas yang kemudian langsung diumumkan sebagai juara kedua, disusul Kakak sebagai juara pertama, dan Mbak yang mendapatkan juara ketiga bersama. Apa kabar Emak selaku official penuh cinta? Lega banget dong ya tentunya.
Polemik muncul saat sesi penyerahan piala. Kakak yang kami ketahui memperoleh juara 1, tetiba diumumkan dan mendapatkan piala dan sertifikat selaku juara kedua. Antara kaget campur bingung, ia tetap maju ke panggung. Sempat kutanyakan kepada panitia yang mengumumkan, sekadar mengkonfirmasi kebenaran pendengaran kami. Ternyata memang begitu yang tertulis dalam SK pengumuman panitia.
Kakak tetap naik ke podium, sementara aku mulai gamang. Meski secuil, kutangkap raut kecewa di sudut tatapnya. Talents harmony dan connectednessku meronta-ronta, mendorong hati dan perasaan untuk menerima. “Sudahlah, mungkin memang segini rizkinya”. Tetapi alhamdulillah, dalam situasi semacam itu kewarasan masih tersisa, “aku harus melakukan sesuatu”. Kaki ini melangkah menyeberangi area pertandingan, menanyakan ihwal yang terjadi kepada petugas berwenang. Akalku berbisik, ini momentum untuk belajar asertif, memperjelas situasi alih-alih berprasangka, dan memastikan keadilan pada tempatnya.
Meski jauh di dalam diriku sungguh bergejolak, menolak, tetapi ini harus. Bismillah, kuyakinkan lagi bahwa ini bukan soal ambisi, melainkan ada sebuah hak yang kuperjuangkan. Segala sesuatu kusampaikan dengan hati-hati. Niat pun sungguh-sungguh kujaga. Pilihan kata jangan sampai merusak, jangan sampai pula menyakiti.
Konfirmasi berlangsung alot karena cek dan ricek harus dilakukan berlapis. Kesaksian riil dari beberapa pihak menunjukkan Kakak memang juara pertama, tetapi tidak demikian teks formalnya. Kami memahami bahwa hal administratif semacam ini, dalam kisruhnya urusan penyelenggara hari itu, sangat memungkinkan melesetnya pencatatan yang dapat berakibat hasil lomba berubah drastis. Human error yang sangat wajar. Selama proses ini aku bersyukur dipertemukan dengan panitia dan official resmi dojo yag sangat kooperatif membantu kami.
Akhirnya, hari itu ditutup dengan kelegaan. Kakak memperoleh keadilan dan haknya. Namun ada satu cinderamata pelajaran yang sangat berharga. Dalam kondisi gelisah menunggu kepastian, kusempatkan mengobrolkan hal (yang menurutku) sangat penting dan aku tidak mau melewatkan momen langka ini. Kepada mereka bertiga, kulempar pertanyaan sederhana namun sarat makna,
“Jika kita yang harusnya juara kedua namun diumumkan sebagai juara pertama, apakah segigih ini kita akan memperjuangkannya?”